Tidak jarang orang merasa pekerjaannya tidak berarti bahkan
malu dengan pekerjaannya sementara pekerjaannya adalah pekerjaan yang
halal dan
jelas-jelas tidak melanggar hukum. Apa yang menyebabkan orang-orang ini
merasa
pekerjaannya tidak berarti dan bahkan ada yang malu dengan pekerjaannya?
Besar
kemungkinan bahwa pekerjaan tersebut
bukanlah pekerjaan yang diinginkan atau diharapkan. Kalau memungkinkan
carilah
pekerjaan yang diinginkan atau diharapkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa
prestasi memang akan lebih mudah diukir apabila seseorang bekerja pada
bidang
pekerjaan yang diminatinya atau membuatnya bergairah (passion)
atau bidang pekerjaan yang ia ahli (strength).
Kalau pekerjaan yang diharapkan tersebut belum juga
didapatkan, anggaplah bahwa pekerjaan tersebut bersifat sementara dan
lakukanlah pekerjaan tersebut dengan sebaik-baiknya karena hanya dengan
cara
itu kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapkan akan
didapatkan. Bukankah
ada seorang yang dulu profesinya sebagai pedagang asongan yang dalam
perjalanan
hidupnya bahkan bisa menjadi seorang menteri di negeri ini.
Jumat, 08 Juni 2012
Jika anda wanita bekerja, istri sekaligus ibu
Menyeimbangkan karir dengan urusan rumah
tangga adalah impian para ibu yang sekaligus berprofesi sebagai wanita
karir. Namun jangan pernah memaksakan diri untuk meraih keseimbangan
antara karir dan rumah tangga, karena hanya stress berkepanjangan yang
akan diperoleh.
Ini bukan teori sembarangan lho melainkan sudah didukung oleh penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah ini mengatakan jika para wanita yang percaya kalau karir dan rumah tangga dapat berjalan seimbang memiliki resiko terkena depresi jauh lebih tinggi dibandingkan para wanita karir yang menerima kenyataan bila karir dan rumah tangga sulit berjalan dengan seimbang.
Bagi wanita karir yang sekaligus seorang ibu pasti mengerti sekali keadaan ini. Profesi sebagai wanita karir saja sudah memberi beban pekerjaan yang tidak sedikit, belum lagi sampai di rumah anak dan suami menuntut perhatian. Ini masih ditambah jika ada konflik dengan atasan atau rekan kerja di kantor, anak bermasalah di sekolah atau sedang bertengkar dengan suami. Jelas beban yang diterima ibu pekerja dua kali lipat lebih banyak daripada yang harus dipikul wanita karir yang masih single.
Ini bukan teori sembarangan lho melainkan sudah didukung oleh penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah ini mengatakan jika para wanita yang percaya kalau karir dan rumah tangga dapat berjalan seimbang memiliki resiko terkena depresi jauh lebih tinggi dibandingkan para wanita karir yang menerima kenyataan bila karir dan rumah tangga sulit berjalan dengan seimbang.
Bagi wanita karir yang sekaligus seorang ibu pasti mengerti sekali keadaan ini. Profesi sebagai wanita karir saja sudah memberi beban pekerjaan yang tidak sedikit, belum lagi sampai di rumah anak dan suami menuntut perhatian. Ini masih ditambah jika ada konflik dengan atasan atau rekan kerja di kantor, anak bermasalah di sekolah atau sedang bertengkar dengan suami. Jelas beban yang diterima ibu pekerja dua kali lipat lebih banyak daripada yang harus dipikul wanita karir yang masih single.
Jangan Puas dengan Menjadi "Rata-rata"
Kita sering terjebak dalam rutinitas hidup dan pekerjaan, sehingga
apa yang kita lakukan dan apa yang kita upayakan, kerap tidak sempat
kita evaluasi. Saat mendengar berita kecelakaan pesawat, di mana mungkin
ada teman atau sahabat kita di dalamnya, atau menerima kabar duka yang
memberitakan salah satu sahabat atau kerabat tutup usia, tak jarang kita
shock dan baru merasa punya waktu untuk berhenti sejenak, mendapatkan insights dan merefleksikan betapa berharganya kehidupan yang kita jalani.
Kita sesungguhnya sangat sadar bahwa hidup kita memang sudah ada takarannya dan suatu saat memang akan berhenti. Pertanyaannya, seberapa sering kita memikirkan pentingnya kualitas hidup yang ingin kita jalani? Apakah kita sungguh-sungguh menjalani hidup dan pekerjaan yang meaningful? Apakah kita sempat mengecek bahwa kita tidak sekadar mengejar karier dan uang, tetapi juga mengisi aspek kehidupan lain, baik itu emosional, membangun hubungan antar manusia dengan baik, serta mengembangkan aspek spiritual dalam hidup?
Kita sesungguhnya sangat sadar bahwa hidup kita memang sudah ada takarannya dan suatu saat memang akan berhenti. Pertanyaannya, seberapa sering kita memikirkan pentingnya kualitas hidup yang ingin kita jalani? Apakah kita sungguh-sungguh menjalani hidup dan pekerjaan yang meaningful? Apakah kita sempat mengecek bahwa kita tidak sekadar mengejar karier dan uang, tetapi juga mengisi aspek kehidupan lain, baik itu emosional, membangun hubungan antar manusia dengan baik, serta mengembangkan aspek spiritual dalam hidup?
Rabu, 06 Juni 2012
Pitaruah Mandeh
Pitaruah Mandeh Untuak Anak Padusi
Manyahuik Siti Budiman: "Kok itu mandeh tanyokan, mandeh malihek tiok hari, hambo indak turun tanah, gilo diateh rumah sajo, indak bajalan kiri kanan , siapo pulo kamaajari? Mandeh lah lamo manunjuakkan, mandeh lah lupo tantang itu."
"Semua terjadi karena suatu alasan."
Dalam hidup ini mungkin kita sering merasa kecewa, diperlakukan tidak adil ,mengalami sesuatu yang tidak kita inginkan, merasa doa kita tidak di kabulkan atau ketika harapan tak sesuai dengan kenyataan.
Arti kehadiran Sang Hujan....
"Yaaaa hujan
lagi hujan lagi...napa harus turun di pagi hari sih, bakalan telat
ngantor nih...., lagi lagi..... hujannn batal dech janjian ngumpul ma
temen2, tu kan hujan... mana jemuran belom kering....hufttttt,
giliran rajin nyuci mobil pasti dech hujan, hujannya kok gag brenti2
sih...udah pake sepeda motor, lupa bawa mantel hujan, sepatu juga baru
beli".....(yg ini sedikit lebay...),tanpa sadar kita sering menggerutu ketika
hujan datang menyapa, seakan hujan ini bikin susah n menghambat aktivitas dan
pekerjaan kita. Meski tahu tapi Kita tak pernah menyadari bahwa air adalah
sumber kehidupan. Kita lupa ketika kemarau melanda hujan begitu di
nanti2kan kehadirannya, tapi mengapa ketika dia datang kita malah merasa
terbebani?????? tak pernahkah kita menyadari
apa yang akan terjadi di muka bumi ini tanpa adanya hujan????? Smoga
goresan dari seorang teman ini bisa
mengingatkan kita selalu akan arti kehadirang Sang Hujan..... Cekidot
Haruskah Memaafkan???????
Kesal, sakit hati, sedih, perasaan ini sering muncul ketika seseorang menyakiti hati kita baik dari perkataan maupun perbuatannya. Saat itu mungkin kita ingin segera membalas rasa sakit hati yang kita rasa kepadanya, ingin dia merasakan rasa sakit yang sama atau mungkin lebih, ingin melabraknya dengan kata2 lebih menyakitkan dan mengeluarkan statment kalau dia dimata anda tidak ada harganya. Hati manusia memang bukan Pualam..., Kata maaf ... 5 huruf yang sangat mudah di ucapkan tapi tidak banyak yang dengan mudah dapat menjalankannya. Memaafkan bukan berarti melupakan tindakan orang yang menyakiti kita, seolah -olah memaafkan harus satu paket
dengan melupakan kejadiannya. Apalagi memaafkan pelakunya.... *eunak aja.loe, bagiku sendiri yang notabene manusia biasa... memaafkan orang yang telah menyakiti hati memang bukan perkara gampang, mungkin seiring berjalannya waktu aku bisa memaafkan dan melupakan perbuatannya tapi untuk memaafkan pelaku..... Butuh Waktu Se Umur Hidupku ( kyk lagu ST12) hmmmmmm, Bagaimana dengan dirimu Sob????? kita baca sama2 tulisan berikut yuk..... mudah2an ada hikmahnya buat diriku, dirimu n dirinya......Cekidot!
Langganan:
Postingan (Atom)






